Berita

Arab Saudi Setop Impor Unggas RI, Pemerintah Dorong Ekspor Produk Olahan
Q: Apa kebijakan terbaru Arab Saudi terkait impor unggas dan telur?
A: Otoritas Makanan dan Obat Arab Saudi (SFDA) memberlakukan larangan total impor unggas dan telur dari 40 negara termasuk Indonesia sebagai langkah pencegahan kesehatan dan peningkatan standar keamanan pangan.
Q: Bagaimana respons Menteri Pertanian Amran Sulaiman terhadap kebijakan tersebut?
A: Amran Sulaiman tidak melihat larangan tersebut sebagai hambatan, melainkan peluang untuk meningkatkan ekspor produk olahan unggas yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan unggas hidup.
Q: Mengapa produk olahan dianggap lebih menguntungkan?
A: Menurut Amran, harga ayam hidup untuk ekspor sekitar Rp30.000 per kilogram, sementara produk olahan bisa bernilai hingga dua kali lipat atau sekitar Rp60.000 per kemasan.
Q: Apa kaitannya dengan kebijakan hilirisasi pemerintah?
A: Langkah mendorong ekspor produk olahan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan hilirisasi, yaitu mengolah bahan mentah menjadi produk jadi agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Q: Apakah Arab Saudi benar-benar tidak menerima unggas dari Indonesia sebelumnya?
A: Direktur Charoen Pokphand Jaya Farm, Jusi Jusran, menyatakan bahwa Arab Saudi memang sejak lama belum membuka impor unggas hidup atau karkas ayam dari Indonesia.
Q: Apakah ada peluang ekspor yang masih terbuka?
A: Ya, peluang masih ada melalui ekspor produk olahan seperti ready to eat atau ready to serve yang telah melalui proses pemanasan (heat treatment). Proses perizinan melalui kerja sama pemerintah sudah berlangsung sekitar tiga tahun.
Q: Apa tantangan utama memasuki pasar Arab Saudi?
A: Persaingan sangat ketat dengan negara besar seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Thailand yang sudah lama memasok produk unggas ke pasar Saudi dengan harga yang sangat kompetitif.
Q: Apa langkah yang sedang dilakukan perusahaan dan pemerintah Indonesia?
A: Perusahaan seperti Charoen Pokphand bersama pemerintah terus mengurus persyaratan teknis dan perizinan, termasuk bekerja sama dengan BPOM agar produk olahan ayam Indonesia bisa segera masuk ke pasar Arab Saudi.
Q: Apa target pasar jika produk Indonesia berhasil masuk ke Arab Saudi?
A: Selain untuk kebutuhan jamaah haji, produk Indonesia diharapkan dapat masuk ke pasar komersial seperti hotel, restoran, dan katering di Arab Saudi.
Inti cepat: Larangan impor unggas dan telur Indonesia oleh Arab Saudi justru dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan ekspor produk olahan bernilai tambah lebih tinggi.
Komentar
Belum ada komentar.